Kamis, 08 Desember 2011

makalah tanaman industri nilam


BAB I
PENDAHULUAN

1.1.         LATAR BELAKANG
Tanaman nilam (Pogostemon cablin Benth) merupakan salah satu tanaman penghasil minyak atsiri yang cukup penting, yaitu minyak nilam atau lebih dikenal dengan nama patchouly oil. Minyak nilam bersama dengan 14 jenis minyak atsiri lainnya adalah komoditas ekspor penghasil devisa. Minyak nilam Indonesia sudah dikenal dunia sejak 65 tahun yang lalu, bahkan Indonesia merupakan pemasok utama minyak nilam dunia (90%). Ekspor nilam Indonesia berfluktuasi dengan laju peningkatan ekspor sekitar 12% per tahun atau berkisar antara 700 ton - 2.800 ton minyak nilam per tahun. Sementara itu kebutuhan dunia berkisar 1.200 ton – 1.500 ton dengan pertumbuhan sebesar 5% per tahun.
Sebagai komoditas ekspor, minyak nilam mempunyai prospek yang cukup baik, karena permintaan akan minyak nilam sebagai bahan baku industri parfum, kosmetik, sabun dan lainnya akan terus meningkat. Fungsi minyak nilam dalam industri parfum adalah untuk memfiksasi bahan pewangi dan mencegah penguapan sehingga wangi tidak cepat hilang, serta membentuk bau yang khas dalam suatu campuran (Ketaren dalam Emmyzar dan Yulius, 2004). Hal ini menyebabkan minyak nilam mutlak diperlukan dalam industri parfum.
Dalam makalah ini akan disajikan perkembangan komoditas nilam di Indonesia serta prospeknya dalam memenuhi kebutuhan domestik maupun kebutuhan pasar luar negeri di masa mendatang.

1.2.         RUMUSAN MASALAH
1.      Bagaimana perkembangan luas areal, produksi dan produktivitas nilam di Indonesia?
2.      Bagaimana perkembangan konsumsi nilam di Indonesia?
3.      Bagaimana perkembangan harga nilam di Indonesia?
4.      Bagaimana perkembangan ekspor – impor nilam Indonesia?
5.      Bagaimana proyeksi penawaran nilam 2009 – 2011 ?
6.      Bagaimana proyeksi permintaan nilam 2009 – 2011 ?
7.      Bagaimana proyeksi surplus/defisit nilam 2009 – 2011 ? 

1.3.         TUJUAN
Tujuan dari penyusunan makalah ini adalah untuk mengetahui :
1.      Perkembangan luas areal, produksi dan produktivitas nilam di Indonesia
2.      Perkembangan konsumsi nilam di Indonesia
3.      Perkembangan harga nilam di Indonesia
4.      Perkembangan ekspor – impor nilam Indonesia
5.      Proyeksi penawaran nilam 2009 – 2011
6.      Proyeksi permintaan nilam 2009 – 2011
7.      Proyeksi surplus/defisit nilam 2009 – 2011











BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Nilam (Pogostemon cablin Benth.) adalah suatu semak tropis penghasil sejenis minyak atsiri yang dinamakan sama (minyak nilam). Dalam perdagangan internasional, minyak nilam dikenal sebagai minyak patchouli (dari bahasa Tamil patchai (hijau) dan ellai (daun), karena minyaknya disuling dari daun). Aroma minyak nilam dikenal 'berat' dan 'kuat' dan telah berabad-abad digunakan sebagai wangi-wangian (parfum) dan bahan dupa atau setanggi pada tradisi timur. Harga jual minyak nilam termasuk yang tertinggi apabila dibandingkan dengan minyak atsiri lainnya.
Tumbuhan nilam berupa semak yang bisa mencapai satu meter. Tumbuhan ini menyukai suasana teduh, hangat, dan lembab. Mudah layu jika terkena sinar matahari langsung atau kekurangan air. Bunganya menyebarkan bau wangi yang kuat. Bijinya kecil. Perbanyakan biasanya dilakukan secara vegetatif.
Minyak nilam tergolong dalam minyak atsiri dengan komponen utamanya adalah patchoulol. Daun dan bunga nilam mengandung minyak ini, tetapi orang biasanya mendapatkan minyak nilam dari penyulingan uap terhadap daun keringnya (seperti pada minyak cengkeh). Di Indonesia minyak nilam juga disuling dari kerabat dekat nilam yang asli dari Indonesia, nilam Jawa (Pogostemon heyneani), yang memiliki kualitas lebih rendah.
Minyak nilam yang baik umumnya memiliki kadar PA di atas 30%, berwarna kuning jernih, dan memiliki wangi yang khas dan sulit dihilangkan. Minyak nilam jenis ini didapat dengan menggunakan teknik penyulingan uap kering yang dihasilkan mesin penghasil uap (boiler) yang diteruskan ke dalam tangki reaksi (autoklaf) selanjutnya uap akan menembus bahan baku nilam kering dan uap yang ditimbulkan diteruskan ke bagian pemisahan untuk dilakukan pemisahan uap air dengan uap minyak nilam dengan sistem penyulingan. Minyak nilam yang baik dihasilkan dari tabung reaksi dan peralatan penyulingan yang terbuat dari baja tahan karat (stainless steel) dan peralatan tersebut hanya digunakan untuk menyuling nilam saja (tidak boleh berganti-ganti dengan bahan baku lain).
Karena sifat aromanya yang kuat, minyak ini banyak digunakan dalam industri parfum. Sepertiga dari produk parfum dunia memakai minyak ini, termasuk lebih dari separuh parfum untuk pria. Minyak ini juga digunakan sebagai pewangi kertas tisu, campuran deterjen pencuci pakaian, dan pewangi ruangan. Fungsi yang lebih tradisional adalah sebagai bahan utama setanggi dan pengusir serangga perusak pakaian.
Aroma minyak nilam dianggap 'mewah' menurut persepsi orang Eropa, tetapi orang sepakat bahwa aromanya bersifat menenangkan.
Berbicara masalah komoditi ekspor nonmigas, minyak atsiri dari nilam merupakan salah satu andalan. Bahkan negeri kita tercatat sebagai pengekspor minyak nilam terbesar di dunia. Meski populer di pasar internasional, anehnya minyak atsiri nilam kurang akrab di telinga kita. Apalagi masih sedikit yang mengenal sosok tanaman nilam dengan baik. Padahal ini peluang bisnis di masa depan. Nilam merupakan salah satu dari 150 – 200 spesies tanaman penghasil minyak atsiri. Di Indonesia sendiri terdapat sekitar 40 – 50 jenis, tetapi baru sekitar 15 spesies yang diusahakan secara komersial.
Tanaman nilam mempunyai julukan keren Pogostemon patchouli atau Pogostemon cablin Benth, alias Pogostemon mentha. Aslinya dari Filipina, tapi sudah dikembangkan juga di Malaysia, Madagaskar, Paraguay, Brasil, dan Indonesia. Gara-gara banyak ditanam di Aceh, lantas juga dijuluki nilam aceh. Varietas ini banyak dibudidayakan secara komersial.
Sampai saat ini Daerah Istimewa Aceh, terutama Aceh Selatan dan Tenggara, masih menjadi sentra tanaman nilam terluas di Indonesia (Ditjen Perkebunan, 1997). Disusul Sumatra Utara (Nias, Tapanuli Selatan), Sumatra Barat, Bengkulu, Lampung, Jawa Tengah (Banyumas, Banjarnegara), dan Jawa Timur (Tulungagung). Umumnya, masih didominasi perkebunan rakyat berskala kecil. Potensi daerah inilah yang nantinya dapat dijadikan peluang bisnis yang menjanjikan. Karena permintaan minyak atsiri diberbagai pasar luar negeri cukup banyak. Kontribusi ekspor minyak atsiri relatif kecil terhadap nilai devisa total Indonesia. Namun, ternyata terjadi kenaikan permintaan setiap tahun. Bahkan peningkatannya cukup tajam. Sehingga peluang usaha minyak atsiri dalam hal pengembangan industrinya  sangatlah terbuka lebar.
Varietas lainnya, Pogostemon heyneanus, berasal dari India. Juga disebut nilam jawa atau nilam hutan karena banyak tumbuh di hutan di Pulau Jawa. Ada lagi Pogostemon hortensis, atau nilam sabun (minyak atsirinya bisa untuk mencuci pakaian). Banyak terdapat di daerah Banten, Jawa Barat, sosok tanamannya menyerupai nilam jawa, tapi tidak berbunga.
Minyak atsiri (atau asiri) juga disebut minyak eteris atau minyak terbang (essensial oil atau volatile). Dinamai demikian karena mudah terbang (menguap) pada suhu kamar (250C) tanpa mengalami dekomposisi. Aroma minyak atsiri umumnya khas, sesuai jenis tanamannya. Bersifat mudah larut dalam pelarut organik, tapi tidak larut air.
Minyak nilam memiliki potensi strategis di pasar dunia sebagai bahan pengikat aroma wangi pada parfum dan kosmetika. Dunia membutuhkan 1.200 - 1.400 ton minyak nilam setiap tahun dan volume itu cenderung terus meningkat, sementara produksi yang tersedia baru mencapai 1.000 ton per tahun. Harga di pasar lokal berkisar Rp 250.000 per kilogram.
Minyak nilam memiliki potensi strategis di pasar dunia sebagai bahan pengikat aroma wangi  pada parfum dan kosmetika. Dunia membutuhkan 1.200 - 1.400 ton minyak nilam setiap tahun dan volume itu cenderung terus meningkat, sementara produksi yang tersedia baru mencapai 1.000 ton per tahun. Harga di pasar lokal berkisar Rp 250.000 per kilogram.

Salah satu jenis minyak atsiri penting di Indonesia adalah minyak nilam (patchouli oil) yang dihasilkan melalui penyulingan tanaman nilam (Pogostemon cablin Benth). Tanaman nilam dari famili Lamiaceae (Labiatae) merupakan tanaman herbal semusim, tumbuh tegak kurang lebih setinggi 1 meter dengan percabangan yang banyak. Batang berkayu berwarna keunguan dan memiliki daun berwarna hijau berbentuk lonjong.

Tanaman yang dikenal juga sebagai Dhilem Wangi atau Dhilep atau Pecoli atau Patchouli ini, memiliki aroma yang sangat khas, karena baunya yang khas dan rada eksotik sehingga tidak mudah dilupakan oleh siapa pun yang pernah menciumnya.

Sebagai tanaman perkebunan, nilam memiliki prospek ekonomi yang cukup cerah. Dibandingkan dengan tanaman penghasii minyak atsiri lainnya (Indonesia memiliki sekitar 200 species tanaman yang menghasilkan minyak atsiri), nilam mempunyai keunggulan tersendiri sebagai unsure pengikat (fikatif) yang terbaik untuk wewangian (parfum). Hal ini disebabkan karena daya lekatnya yang kuat sehingga aroma wangi tidak mudah hilang karena tercuci atau menguap, dapat larut dalam alkohol dan dapat dicampur dengan minyak esteris lainnya.

            Ada tiga jenis tanaman nilam yaitu nilam Aceh (Pogostemon cablin), nilam Jawa (Pogostemon hortensis) dan nilam tipis (Pogostemon heyneanus). Di antara ketiga jenis ini, nilam Aceh adalah yang terbaik, karena memiliki kadar atsiri tertinggi yakni 2,5%- 5%, sedang jenis lain hanya 0,5%.

Penyebutan 'nilam Aceh' sekaligus menunjukkan bahwa yang menjadi sentra produksi minyak nilam di Indonesia memang Daerah Istimewa Nangroe Aceh Darussalam, di samping Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Lebih dari 80% minyak nilam di Indonesia dihasilkan dari ketiga propinsi tersebut. Belakangan daerah lain seperti Bengkulu, Lampung, Kalteng dan beberapa daerah di Pulau Jawa mulai mengembangkan komoditi ini. Dalam 10 tahun terakhir ini, peningkatan volume ekspor komoditi ini cukup tajam, yakni sekitar 6 % per tahun. Prospek ekspor komoditi minyak nilam di masa datang masih cukup besar sejalan dengan semakin tingginya permintaan terhadap parfum dan kosmetika, trend mode, dan belum berkembangknya materi substitusi minyak nilam di dalam industri parfum/kosmetika.
Pasar dunia saat ini membutuhkan 1,500 ton minyak nilam rata-rata setahun dengan kecenderungan yang terus meningkat, sementara produksi yang tersedia belum mampu memenuhinya. Secara keseluruhan, Indonesia memasok sekitar 90% kebutuhan minyak nilam dunia (Direktorat Neraca .Produksi BPS, 2002).

Nuryani (2001) dalam Suyono (2001) melaporkan bahwa volume ekspor minyak nilam periode 1995 -1998 mencapai 800 – 1.500 ton, dengan nilai devisa US $ 18 - 53 juta. Datatahun 2001 menyebutkan bahwa nilai ekspor minyak nilam sebesar US $ 33 juta, yang merupakan 50% dari total ekspor minyak atsiri Indonesia.

Harga minyak nilam di pasar lokal (di tingkat agen eksportir) berkisar Rp 200.000 - Rp 250.000 per kg, sedangkan di New York, AS, harganya mencapai US$ 14 - 23,5. Negara tujuan ekspor minyak nilam meliputi AS, Inggris, Perancis, Swis, Jerman, Belanda, Singapura, dan India.

Sebelum petani mengenal alat penyuling (pertama kali alat penyuling dikenal pada 1920-an), yang diekspor adalah daun nilam kering. Bahkan kini pun, petani yang tidak memiliki alat penyuling, terkadang menjual daun nilam dengan harga Rp 2.000 per kg (kering) atau Rp 400 per kg (basah). Sebagai pengumput adalah petani pemilik ketel penyuling.

Importir minyak nilam terbesar saat ini adalah Amerika Serikat (lebih 200 ton per tahun), disusul lima negara Eropa, masing-masing Inggris (45-60 ton/th), Perancis, Swiss (40-50 ton/th), Jerman (35-40 ton/th) dan Belanda (30 ton/th). Beberapa eksportir minyak nilam mengaku masih kesulitan memenuhi pesanan minyak nilam yang datang dari mancanegara. PT Jasu-lawangi, eksportir minyak atsiri terbesar di Indonesia baru bias memasok 50 ton atau sekitar 10% dari permintaan. Permintaan cukup besar juga datang dari India, Belgia, Jepang, dan Singapura.
Mutu minyak nilam digolongkan dalam tiga jenis berdasarkan aromanya, yaitu : ordinary dan medium yang merupakan minyak nilam hasil sulingan Indonesia dan Singapura; special dan exfra special yang merupakan hasil sulingan Perancis dan Inggris yang dilakukan secara tidak langsung dan daun dipilih terlebih dahulu.

Standar minyak nifam Indonesia yang ditetapkan oleh Dewan Standardises! Nasional dengan nama Standar Nasional Indonesia (SNI) 06-2385-1991 meliputi ruang lingkup (syarat mutu, cara pengujian mutu, cara pengemasan), definisi, jenis mutu, pengambilan contoh dan rekomendasi. Dalam SNI, minyak nilam didefinisikan sebagai minyak yang diperoleh dengan cara penyulingan dari tanaman Pogostemon cablin Benth. Minyak nilam digolongkan hanya dalam satu jenis mutu dengan nama patchouli oil.

Persyaratan ekspor minyak nilam selanjutnya meliputi hal-hal sebagai berikut: (1) Minyak nilam wajib dikemas dalam drum aluminium, atau drum dari pelat timah putih, atau drum besi galvanis, atau drum dilapisi timah putih, atau drum besi diiapisi cat enamel; (2) isi tiap drum 50 kg netto atau 170 kg netto. Wadah tidak boleh disi penuh, harus diberi rongga 5-10% dari volume drum, Bagian luar drum wajib diberi merek dengan cat (dalam bahasa Inggris) : product of Indonesia, nama barang, negara tujuan, berat netto dan bruto; dan (3) sebelum dikapalkan, tiap drum wajib diambil contoh untuk diperiksa oleh petugas pengujian mutu.
Selain sebagai pengikat wangi pada parfum, kosmetika dan sebagian obat-obatan, ternyata minyak nilam berkhasiat sebagai antibiotik dan antiradang karena dapat menghambat pertumbuhan jamur dan mikroba. Dapat digunakan untuk deodorant, obat batuk, asma, sakit kepala, sakit perut, bisul, herpes dan lain-lain, wewangian (parfum), minyak nilam tergolong dalam jenis aroma woodsy. Merupakan minyak eksotik (exotic oil) yang dapat meningkatkan gairah dan semangat, serta mempunyai sifat meningkatkan sensualitas. Biasa digunakan untuk mengharumkan kamar tidur untuk memberi efek menenangkan dan membuat tidur lebih nyenyak (anti-insomnia).
Dalam pengobatan tradisional India yang lebih dikenal dengan ayurveda, minyak nilam digunakan untuk penawar racun apabila digigit ular dan serangga. Minyak nilam murni (100%) yang diteteskan pada kapas dan diusapkan pada bagian yang digigit uiar cobra, dapat menetralisir racun/bisa ular sebagai pertolongan pertama.
Dalam perawatan kulit, minyak nilam dapat digunakan untuk mengobati jerawat, gangguan kulit, eksim, infeksi jamur, ketombe, keriput, luka, parut bekas luka, pemekaran pembuluh darah, kapalan pada kaki, dan lain-lain.
Penggunaan 1 gram minyak nilam yang dicampur dengan shampo herbal dapat mencegah timbulnya ketombe, merangsang pertumbuhan rambut, serta menjaga warna rambut agar tetap hitam sehingga mencegah timbulnya uban.
Dalam perawatan pakaian terutama yang terbuat dari bahan wol dan sutra, beberapa tetes minyak nilam dapat mencegah ngengat, semut dan serangga lain yang suka hidup dalam lemari atau laci.
Dalam hal psikoemosional, minyak nilam termasuk dalam 'terapi aroma' kelas soothing dan tooning yang belakangan ini makin popular sebagai salah satu aspek pengobatan alternatif, karena minyak nilam mempunyai efek sedatif (menenangkan) dapat digunakan untuk menanggulangi gangguan depresi, gelisah, tegang karena kelelahan, stres, kebingungan, lesu dan tidak bergairah, meredakan kemarahan serta membuat tidur lebih nyenyak (anti-insomnia). Dalam penggunaannya, minyak nilam akan lebih baik apabila dicampur dengan minyak cengkeh, cendana, lavender, mawar, dan lain-lain.
Penggunaan minyak nilam sebanyak 5-6 tetes dalam air rendaman mandi atau sabun mandi dapat mencegah problem kulit, seperti kulit kering dan kapalan serta mencegah keriput.
Campuran 10-15 tetes minyak nilam dalam 60 ml minyak pencampur dapat digunakan untuk pijat, dan beberapa tetes dicampur dengan shampoo dapat digunakan untuk perawatan rambut.
Beberapa tetes minyak nilam dalam air panas kemudian uapnya dihirup, dapat membantu menghilangkan stres. Selain itu, minyak nilam atau daun nilam kering dapat dibakar di mana asapnya berfungsi sebagai pengharum ruangan.














BAB III
PEMBAHASAN

3.1. PERKEMBANGAN  LUAS  AREAL,  PRODUKSI  DAN  PRODUKTIVITAS  NILAM  DI  INDONESIA
Perkembangan luas areal perkebunan nilam di Indonesia pada periode tahun 1989-2008 menunjukkan kecenderungan meningkat dengan pola perkembangan yang serupa dengan pola perkembangan luas areal perkebunan nilam rakyat. Hal ini disebabkan luas areal nilam di Indonesia didominasi oleh perkebunan rakyat (PR). Pada periode tersebut pertumbuhan luas areal nilam Indonesia rata-rata mencapai 10,76% per tahun. Krisis moneter yang terjadi di Indonesia pada tahun 1997-1998 ternyata berdampak positif pada perkembangan luas areal nilam, mengingat minyak nilam merupakan komoditas ekspor. Jika sebelum tahun 1997 terjadi peningkatan luas nilam sebesar 7,70% per tahun, maka tahun 1998-2008 luas areal nilam meningkat pesat dengan rata-rata peningkatan sebesar 12,98%. Bahkan pada tahun 2002 terjadi peningkatan luas areal nilam hingga mencapai 139,79% dibandingkan tahun sebelumnya.
Berdasarkan status pengusahaannya, nilam hanya diusahakan oleh PR dan perkebunan besar swasta (PBS), namun setelah tahun 1998 pengusahaan nilam sepenuhnya dilakukan oleh PR. Pada tahun 1989 - 1997 pertumbuhan luas areal nilam PR rata-rata sebesar 7,75% per tahun sedangkan luas areal nilam PBS turun sebesar 14,17% per tahun. Setelah tahun 1997 pertumbuhan luas areal nilam PR meningkat menjadi 12,98% per tahun.
Rata-rata kontribusi luas areal nilam PR tahun 1989 - 2008 mencapai 99,93% dari total luas areal nilam di Indonesia, sedangkan sisanya sebesar 0,07% diusahakan oleh PBS. Setelah tahun 1998 seluruh areal perkebunan nilam diusahakan oleh PR.

Tahun
Luas Areal
Produksi
PR
PBS
Indonesia
PR
PBS
Indonesia
Pertumbuhan (%)






1989-2008
10,78
-11,23
10,76
4,41
-
4,41
1989-1997
7,75
-14,17
7,70
6,71
-
6,71
1998-2008
12,98
-9,09
12,98
2,74
-
2,74
Kontribusi (%)






1989-2008
99,93
0,07
100,00
100,00
0,00
100,00
1989-1997
99,77
0,23
100,00
100,00
0,00
100,00
1998-2008
100,00
0,00
100,00
100,00
0,00
100,00

Seperti halnya perkembangan luas areal nilam, secara umum perkembangan produksi minyak nilam di Indonesia pada periode 1989 - 2008 juga menunjukkan kecenderungan meningkat meskipun lebih berfluktuasi. Pola perkembangan produksi minyak nilam Indonesia serupa dengan pola perkembangan produksi minyak nilam PR. Produksi minyak nilam Indonesia pada periode tersebut rata-rata meningkat sebesar 4,41% per tahun. Berbeda dengan perkembangan luas arealnya, pada tahun 1989 - 1997 (sebelum krisis moneter) produksi minyak nilam Indonesia meningkat sebesar 6,71%, tetapi setelah krisis moneter peningkatan produksinya melambat menjadi 2,74% per tahun.
Berdasarkan data rata-rata produksi minyak nilam Indonesia lima tahun terakhir (2004 - 2008), sentra produksi minyak nilam Indonesia terdapat di 5 provinsi dengan kontribusi kumulatif mencapai 81,87%.

Gambar 3.3. Provinsi sentra produksi minyak nilam di Indonesia, (rata-rata 2004-2008)

Sentra produksi minyak nilam terbesar di Indonesia adalah Sumatera Barat yang memberikan kontribusi rata-rata sebesar 24,46%, diikuti oleh Jawa Tengah di peringkat kedua dengan kontribusi sebesar 21,20%. Bengkulu dan Sumatera Utara berada di peringkat ketiga dan keempat dengan kontribusi masing-masing sebesar 15,39% dan 10,84%. Jawa Barat juga menjadi sentra produksi minyak nilam namun kontribusinya hanya 9,99%, sedangkan provinsi-provinsi lainnya rata-rata memberikan kontribusi kurang dari 7%.
Perkembangan produktivitas nilam di Indonesia selama tahun 2004 - 2008 secara umum berfluktuasi. Pada tahun 2004 produktivitas nilam Indonesia sebesar 103,42 kg/ha, namun tahun berikutnya mengalami penurunan menjadi 103,11 kg/ha. Tahun 2006 terjadi peningkatan produktivitas nilam yang cukup signifikan hingga mencapai 107,23 kg/ha. Tingkat produktivitas yang cukup tinggi tersebut tidak dapat dipertahankan hingga tahun 2007 kembali terjadi penurunan produktivitas nilam menjadi 72,92 kg/ha. Tahun 2008 tingkat produktivitas nilam sebesar 83,05 kg/ha. Banyak faktor yang menyebabkan rendahnya produksi dan mutu nilam Indonesia, selain masalah teknologi, budidaya yang tidak intensif, bibit yang kurang baik, juga cara penanganan bahan baku dan penyulingan minyak nilam yang masih jauh dari sempurna.
Mengingat sebagian besar nilam di Indonesia diusahakan oleh rakyat maka tingkat produktivitas yang dicapai sekarang belum merupakan tingkat produktivitas yang maksimal. Dengan demikian diperlukan upaya perbaikan agar produksi minyak nilam dalam negeri dapat ditingkatkan, baik dengan upaya budidaya yang lebih intensif maupun penangan pasca panen yang lebih baik.


Gambar 3.4. Perkembangan produktivitas nilam di Indonesia, (rata-rata 2004-2008)

3.2. PERKEMBANGAN  KONSUMSI  NILAM  DI  INDONESIA
Karena keterbatasan ketersediaan data maka konsumsi minyak nilam untuk kebutuhan domestik di Indonesia dihitung berdasarkan pendekatan produksi dan volume ekspor impor minyak nilam. Konsumsi minyak nilam di Indonesia pada periode tahun 1989-2008 secara umum berfluktuasi namun menunjukkan peningkatan. Rata-rata pertumbuhan konsumsi domestik untuk minyak nilam dalam kurun waktu tersebut mencapai 59,66% per tahun. Konsumsi tertinggi terjadi pada tahun 1989 sebesar 2.627 ton, namun setelah periode tersebut terjadi penurunan konsumsi minyak nilam hingga tahun 1996. Saat krisis moneter tahun 1997 terjadi peningkatan konsumsi minyak nilam di dalam negeri menjadi sebesar 1.681 ton. Tahun 2006 konsumsi minyak nilam mencapai 1.143 ton. Karena data ekspor dan impor minyak nilam tahun 2007 dan 2008 tidak tersedia (menjadi satu dengan data ekspor impor minyak atsiri), maka konsumsi minyak nilam domestik diasumsikan sama dengan produksinya.

3.3. PERKEMBANGAN  HARGA  NILAM  DI  INDONESIA
Perkembangan harga minyak nilam Indonesia didekati dari perkembangan harga ekspor minyak nilam Indonesia ke luar negeri. Secara umum harga ekspor minyak nilam Indonesia mengalami fluktuasi. Pada periode tahun 1989-1997 (sebelum krisis moneter) terjadi kenaikan harga ekspor minyak nilam Indonesia yang rata-rata mencapai 23,83%. Harga ekspor tertinggi terjadi pada tahun 1997 sebesar US$ 43,18 per kg. Setelah periode tersebut, harga ekspor minyak nilam Indonesia mulai bergerak turun dengan rata-rata penurunan sebesar 6,42%. Pada tahun 2006 harga ekspor minyak nilam Indonesia di pasar dunia hanya sebesar US$ 15,53 per kg
Berdasarkan informasi dari Asosiasi Eksportir Minyak Atsiri Indonesia, harga minyak nilam pada pertengahan tahun 2010 naik menjadi US$ 40 per kilogram dari US$ 20 per kilogram pada tahun 2009. Kenaikan harga tersebut disebabkan oleh cuaca yang kurang kondusif sehingga produksi tidak maksimal dan berdampak pada kenaikan harga minyak nilam (Suprapto dan Elly, 2010).
Menurut Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Bogor, Indonesia merupakan penghasil minyak nilam terbesar di dunia yang setiap tahunnya memasok 70%-90% kebutuhan dunia. Namun sayang, maraknya praktek pencampuran atau pemalsuan dan rendahnya teknologi yang akhirnya berpengaruh pada kualitas menyebabkan harga jualnya menjadi rendah (Nita, 2007). Oleh karena itu perlu dilakukan pembenahan secara menyeluruh baik dalam usaha budidaya, penanganan pasca panen maupun pemasaran nilam Indonesia.

3.4. PERKEMBANGAN EKSPOR-IMPOR NILAM INDONESIA
Kegiatan ekspor dan impor nilam Indonesia dilakukan dalam bentuk minyak nilam dan daun nilam, tetapi ekspor minyak nilam mendominasi perdagangan Indonesia ke luar negeri. Data ekspor impor nilam hanya tersedia hingga tahun 2006, sedangkan mulai tahun 2007 data yang tersedia adalah data minyak atsiri.
Perkembangan ekspor minyak nilam Indonesia selama periode tahun 1989-2006 cenderung meningkat, tetapi ekspor daun nilam cenderung turun. Ekspor minyak nilam terendah terjadi saat krisis ekonomi tahun 1997 dengan volume ekspor hanya sebesar 766 ton, tetapi nilai ekspornya melonjak hingga mencapai US$ 33,07 juta dimana harga ekspor pada tahun tersebut merupakan harga ekspor tertinggi selama periode 1989-2006 (US$ 43,18/kg). Ekspor minyak nilam tertinggi terjadi pada tahun 2006 dengan total volume ekspor mencapai 2.832 ton senilai US$ 43,98 juta. Sementara itu ekspor daun nilam hanya dilakukan sampai tahun 2004 saja, karena kurangnya permintaan ekspor nilam dalam bentuk daun kering.
Selain ekspor, Indonesia juga melakukan kegiatan impor minyak nilam. Perkembangan impor minyak nilam menunjukkan kecenderungan meningkat. Tahun 2006 impor minyak nilam Indonesia mencapai 1.479 ton dengan nilai impor sebesar US$ 5,95 juta.
Berdasarkan nilai ekspor dan nilai impor diperoleh neraca perdagangan minyak nilam Indonesia, dimana selama tahun 1989-2006 masih menunjukkan posisi surplus. Surplus neraca perdagangan nilam terbesar terjadi pada tahun 1998 senilai US$ 52,65 juta, dan semakin menurun hingga tahun 2003. Tahun 2004-2006 surplus neraca perdagangan minyak nilam Indonesia naik kembali, dan pada tahun 2006 surplus neraca perdagangan minyak nilam mencapai US$ 38,03 juta.

3.5. PROYEKSI PENAWARAN NILAM 2009-2011
Proyeksi penawaran nilam didasarkan pada proyeksi produksi minyak nilam. Karena keterbatasan ketersediaan data pendukung, seperti harga produsen, harga pupuk dan harga obat-obatan, maka digunakan metode deret waktu dengan pemulusan eksponensial berganda (double exponential smoothing).
Produksi nilam di Indonesia pada tahun 2009 diperkirakan akan meningkat sebesar 10,85% dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan produksi juga akan terjadi pada tahun 2010 dan 2011 namun tidak signifikan, yaitu sebesar 0,22%. Dengan demikian produksi nilam di Indonesia tahun 2009 diperkirakan mencapai 1.651,64 ton, tahun 2010 sebesar 1.655,21 ton dan tahun 2011 meningkat menjadi 1.658,78 ton.
Meskipun diperkirakan akan terjadi peningkatan produksi nilam pada tahun 2009-2011, namun perlu dilakukan juga upaya perbaikan kualitas nilam Indonesia. Hal ini mengingat masih kurangnya penerapan teknologi oleh petani dalam budidaya komoditas nilam yang menyebabkan rendahnya produksi dan produktivitas daun nilam. Selain itu juga diperlukan perbaikan cara penanganan bahan baku dan proses penyulingan hingga menjadi minyak nilam.

Tahun


Produksi (Ton)


Pertumbuhan (%)


2008*)


1.490,00



2009


1.651,64


10,85


2010

1.655,21


0,22


2011

1.658,78


0,22


Rata-rata pertumbuhan (% / tahun)

3,76


3.6. PROYEKSI PERMINTAAN NILAM 2009-2011
Proyeksi permintaan nilam didasarkan pada proyeksi konsumsi minyak nilam. Metode estimasi yang digunakan adalah metode pemulusan eksponensial berganda (double exponential smoothing). Pada konstanta pemulusan alpha (level)=0,713 dan gamma (trend)=0,108 diperoleh nilai MAPE=118 dengan hasil proyeksi seperti disajikan pada Tabel 8.3. Untuk periode tahun 2009-2011 konsumsi nilam diproyeksikan akan meningkat rata-rata sebesar 1,75% per tahun. Secara absolut konsumsi nilam diperkirakan mencapai 1.404,63 ton pada tahun 2009, tahun 2010 naik menjadi 1.429,41 ton dan akan terus meningkat hingga tahun 2011 sebesar 1.454,19 ton.

3.7. PROYEKSI SURPLUS/DEFISIT NILAM 2009-2011
Berdasarkan hasil proyeksi penawaran dan permintaan nilam di Indonesia diperoleh proyeksi surplus/defisit nilam. Peningkatan permintaan nilam tahun 2009-2011 masih mampu diimbangi dengan produksi dalam negeri sehingga diperkirakan masih akan terjadi surplus hingga tahun 2011. Tahun 2009 surplus nilam diperkirakan sebesar 247,01 ton, tahun 2010 turun menjadi 225,80 ton dan tahun 2011 menjadi 204,59 ton.
Melihat hasil proyeksi surplus/defisit nilam tersebut, sebenarnya masih terbuka peluang bagi pelaku usaha komoditas nilam untuk mengembangkan usaha budidaya nilam. Semakin berkembangnya industri yang menggunakan nilam sebagai salah satu bahan bakunya, seperti industri parfum, kosmetika, dan obat-obatan, dapat menjadi pasar yang sangat menjanjikan bagi upaya pengembangan nilam Indonesia. Hal ini juga didukung oleh hasil proyeksi yang menunjukkan bahwa konsumsi nilam di dalam negeri akan semakin meningkat di masa mendatang. Kebutuhan minyak nilam untuk pasar dunia yang saat ini rata-rata mencapai 1.200 ton - 1.500 ton per tahun dengan kecenderungan yang semakin meningkat (Anonim, 2010) juga merupakan peluang usaha yang sangat menjanjikan.

DAFTAR PUSTAKA

 Anonim.  2010. Nilam: Tanaman Semak Berminyak Mahal.                            http://images.toiusd.multiply.multiplycontent.com [terhubung berkala].  
 Emmyzar dan Yulius F. 2004. Pola Budidaya untuk Peningkatan Produktivitas dan Mutu Minyak Nilam (Pogostemon cablin Benth). Perkembangan Teknologi
TRO VOL. XVI, No. 2, 2004. Bogor, Balai Penelitian Tanaman Rempah dan
Obat. 
Nita. 2007. Minyak Nilam Sebagai Bahan Parfum. http://ikm.depperin.go.id/Publikasi [terhubung berkala]. 
Suprapto H. dan Elly SR. 2010. Harga Minyak Atsiri Naik 100%. http://bisnis.vivanews.com/news [terhubung berkala].





                                                        

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar