Minggu, 16 September 2012

Makalah Tanaman Industri Semusim tebu


MAKALAH

TEKNOLOGI PRODUKSI TANAMAN

Prospek Budidaya Tanaman Industri Semusim Tebu

Disusun Oleh :
1.      Sri Rohmahwanti                                    115040101111178
2.      Siti Khofifatul Isriyah                             115040101111204
3.      Rulita Dwi Cahyani                                115040101111185


PROGRAM STUDI AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2012




KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga saya berhasil menyelesaikan makalah yang allhamdulilah selesai tepat pada waktunya. Berjudul
Makalah ini berisikan informasi tentang klasifikasi tanaman tebu, budidaya tanaman tebu dan hama apa saja yang menyerang tanaman tebu beserta penanganannya sehingga dapat bermanfaat bagi masyarat atau petani tebu dan tak ketinggalan dalam makalah ini juga dipaparkan cara budidaya tanaman tebu yang baik. Diharapkan makalah ini dapat memberikan informasi kepada kita tentang budidaya tanaman tebu. Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin



                                                                                    Malang, 07 September 2012


Penyusun
                                                                                               


                                                                                                                       


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .......................................................................................... i
DAFTAR ISI......................................................................................................... ii
BAB I      PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ..........................................................................     1
1.2 Rumusan Masalah......................................................................     2
 1.3 Tujuan.......................................................................................     2
BAB II    TINJAUAN PUSTAKA…………………………………………...    3
BAB III   ISI PEMBAHASAN
3.1 Budidaya Tebu................................................................................ 5
3.2 Hama Penyakit Tebu dan Penanganannya ..................................... 8
3.3  Limbah Perkebunan Tebu dan Industri Gula................................. 9
BAB IV   PENUTUP
4.1 Kesimpulan.................................................................................... 11
4.2 Saran.............................................................................................. 11
DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................    12



 BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Gula merupakan salah satu komoditas strategis dalam perekonomia Indonesia. Dengan luas areal sekitar 350 ribu ha pada periode 2000-2005, industri gula berbasis tebu merupakan salah satu sumber pendapatan bagi sekitar 900 ribu petani dengan jumlah tenaga kerja yang terlibat mencapai sekitar 1,3 juta orang. Gula juga merupakan salah satu kebutuhan pokok masyarakat dan sumber kalori yang relatif murah. Karena merupakan kebutuhan pokok, maka dinamika harga gula akan mempunyai pengaruh langsung terhadap laju inflasi. Dengan posisinya yang penting dan sejalan dengan revitalisasi sektor pertanian, maka industri gula berbasis tebu juga perlu melakukan berbagai upaya sehingga sejalan dengan revitalisasi sektor pertanian. Hal ini menuntut industri gula berbasis tebu perlu melakukan berbagai perubahan dan penyesuaian guna meningkatkan produktivitas, dan efisiensi, sehingga menjadi industri yang kompetitif, mempunyai nilai tambah yang tinggi, dan memberi tingkat kesejahteraan yang memadai pada para pelakunya, khususnya petani. Dengan tingkat efisiensi yang masih belum memadai serta pasar yang terdistorsi, revitalisasi pada industri berbasis tebu merupakan keharusan. Dalam hal ini, peningkatan investasi merupakan salah satu syarat keharusan untuk dapat mewujudkan revitalisasi tersebut. Untuk itu, menggalang peningkatan investasi merupakan suatu upaya yang strategis.
Konteks budidaya tebu penggunaan lahan dan sumberdaya alam lainnya dalam menghasilkan gula perlu memperhatikan aspek kelestarian lingkungan. Pengelolaan lahan harus memperhatikan kaidah-kaidah koservasi supaya lahan terhindar dari kerusakan seperti erosi dan longsor. Sarana produksi yang diberikan seperti pupuk, pestisida, zat pemacu kemasakan dsb harus diberikan dalam takaran, cara dan waktu yang tepat sesuai kebutuhan, serta tidak mencemari lingkungan.  Sejak akhir 70-an budidaya tebu mulai bergeser ke lahan tegalan. Penggunaan lahan tegelan di masa mendatang tampaknya akan semakin meluas karena areal sawah banyak yang berubah fungsi menjadi kawasan non-pertanian seperti industri dan pemukiman. Di sawah, tebu juga menghadapi persaingan ketat dari padi. Pergeseran ini menimbulkan berbagai konsekuensi yang berhubungan dengan konservasi lahan. Lahan tegalan umumnya bertofografi bergelombang hingga berbukit dan bersolum (lapisan tanah) dangkal sehingga peka akan erosi. Lahan tegalan juga memiliki tingkat kesuburan yang lebih rendah dibanding lahan sawah, sehingga input produksi yang ditambahkan biasanya lebih banyak.
Kerusakan lahan serta pencemaran lingkungan akibat budidaya tebu sebenarnya terjadi pula pada budidaya tebu lahan sawah. Namun karena kondisi fisik dan kimiawi yang dimiliki tegalan menyebabkannya lebih rentan terhadap kerusakan, serta kecenderungan ke depan area tegalan cenderung terus bertambah, maka tulisan ini difokuskan pada aspek konservasi lahan tegalan. Secara khusus tulisan mencakup tentang peran tebu dalam konservasi tanah serta teknik-teknik konservasi tanah dalam budidaya tebu tegalan.
           
1.2  Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari makalah ini adalah sebagai berikut:
1.    Bagaimana cara budidaya tebu?
2.    Apa saja  hama penyakit tebu dan bagaimana penanganannya?
3.    Apa manfaat dari Limbah Perkebunan Tebu dan Industri Gula?

1.3  Tujuan
Tujuan penyusunan makalah ini adalah untuk mengetahui:
1.    Cara budidaya tebu
2.    Hama penyakit tebu dan penanganannya
3.    Manfaat limbah perkebunan tebu dan industri gula







BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Klasifikasi Tebu

Nama umum: Saccharum officinarum L.

Indonesia:
Tebu
Inggris:
Sugarcane, sugar cane
Pilipina:
Tubo








Kingdom             : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom        : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi         : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi                   : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas                   : Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
Sub Kelas            : Commelinidae
Ordo                    : Poales
Famili                  : Poaceae (suku rumput-rumputan)
Genus                  : Saccharum
Spesies                 : Saccharum officinarum L.


2.2 Pengertian Tebu
Tebu (Saccharum officinarum Linn) adalah tanaman untuk bahan baku gula. Tanaman ini hanya dapat tumbuh di daerah beriklim tropis. Tanaman ini termasuk jenis rumput-rumputan. Umur tanaman sejak ditanam sampai bisa dipanen mencapai kurang lebih 1 tahun. Di Indonesia tebu banyak dibudidayakan di pulau Jawa dan Sumatera
(Wikipedia, 2007).
Bentuk fisik tanaman tebu dicirikan oleh terdapatnya bulu-bulu dan duri sekitar pelepah dan helai daun. Banyaknya bulu dan duri beragam tergantung varietas. Jika disentuh akan menyebabkan rasa gatal. Kondisi ini kadang menjadi salah satu penyebab kurang berminatnya petani berbudidaya tebu jika masih ada alternatif tanaman lain. Tinggi tanaman bervariasi tergantung daya dukung lingkungan dan varietas, antara 2,5-4 meter dengan diameter batang antara 2-4 cm.
 (Dinas Perkebunan, 2004).
Daur kehidupan tanaman tebu melalui 5 fase, yaitu :
1. Perkecambahan
Dimulai dengan pembentukan taji pendek dan akar stek pada umur 1 minggu dan diakhiri pada fase kecambah pada umur 5 minggu.
2. Pertunasan
Dimulai dari umur 5 minggu sampai 3,5 bulan.
3. Pemanjangan Batang
Dimulai dari umur 3,5 bulan sampai 9 bulan.
4. Kemasakan
Merupakan fase yang terjadi setelah pertumbuhan vegetatif menurun dan sebelum batang tebu mati. Pada fase ini gula di dalam batang tebu mulai terbentuk hingga titik optimal hingga berangsur-angsur menurun. Fase ini disebut juga fase penimbunan rendemen gula.
 (KPPBUMN, 2007).
5. Kematian
Tujuh varietas tebu unggul harapan yang diperkenalkan dinas perkebunan dapat dipakai sebagai alternatif pendamping mengungguli varietas lama yang masih dipertahankan yaitu PS 84-16029, PS 86-17079, PS 86-8680,dan PS 89-19137.
 (Dinas Perkebunan, 2004).
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Budidaya Tebu
            Langkah-langkah berbudidaya tebu adalah sebagai berikut:
Pembukaan Kebun
Sebaiknya pembukaan dan penanaman dimulai dari petak yang paling jauh dari jalan utama atau lori pabrik. Ukuran got standar ; Got keliling/mujur lebar 60 cm; dalam 70 cm, Got malang/palang lebar 50 cm; dalam 60 cm. Buangan tanah got diletakkan di sebelah kiri got. Apabila got diperdalam lagi setelah tanam, maka tanah buangannya diletakkan di sebelah kanan got supaya masih ada jalan mengontrol tanaman.
Juringan/cemplongan (lubang tanam) baru dapat dibuat setelah got – got malang mencapai kedalaman 60 cm dan tanah galian got sudah diratakan. Ukuran standar juringan adalah lebar 50 cm dan dalam 30 cm untuk tanah basah, 25 cm untuk tanah kering. Pembuatan juringan harus dilakukan dua kali, yaitu stek pertama dan stek kedua serta rapi. Jalan kontrol dibuat sepanjang got mujur dengan lebar + 1 m. Setiap 5 bak dibuat jalan kontrol sepanjang got malang dengan lebar + 80 cm. Pada juring nomor 28, guludan diratakan untuk jalan kontrol (jalan tikus).

·         Turun Tanah/Kebruk
Yaitu mengembalikan tanah stek kedua ke dalam juringan untuk membuat kasuran/bantalan/dasar tanah. Tebalnya tergantung keadaan, bila tanahnya masih basah + 10 cm. di musim kemarau terik tebal + 15 – 20 cm.

·         Persiapan Tanam
Lakukan seleksi bibit di luar kebun Bibit stek harus ditanam berhimpitan agar mendapatkan jumlah anakan semaksimal mungkin. Bibit stek + 70.000 per ha. Sebelum ditanam, permukaan potongan direndam dahulu dengan POC NAS dosis 2 tutup + Natural GLIO dosis 5 gr per 10 liter air. Sebelum tanam, juringan harus diari untuk membasahi kasuran, sehingga kasuran hancur dan halus.

Cara Tanam
1. Bibit Bagal/Debbeltop/Generasi
Tanah kasuran harus diratakan dahulu, kemudian tanah digaris dengan alat yang runcing dengan kedalaman + 5-10 cm. Bibit dimasukkan ke dalam bekas garisan dengan mata bibit menghadap ke samping. Selanjutnya bibit ditimbun dengan tanah.
2. Bibit Rayungan (Bibit Yang Telah Tumbuh Di Kebun Bibit)
Jika bermata (tunas) satu: batang bibit terpendam dan tunasnya menghadap ke samping dan sedikit miring, + 45 derajat. Jika bibit rayungan bermata dua; batang bibit terpendam dan tunas menghadap ke samping dengan kedalaman + 1 cm. Sebaiknya, bibit bagal (stek) dan rayungan ditanam secara terpisah di dalam petak-petak tersendiri supaya pertumbuhan tanaman merata.
Waktu Tanam
Berkaitan dengan masaknya tebu dengan rendemen tinggi tepat dengan timing masa giling di pabrik gula. Waktu yang tepat pada bulan Mei, Juni dan Juli.

Penyiraman
Penyiraman tidak boleh berlebihan supaya tidak merusak struktur tanah. Setelah satu hari tidak ada hujan, harus segera dilakukan penyiraman.
Penyulaman
1. Sulam sisipan, dikerjakan 5 – 7 hari setelah tanam, yaitu untuk tanaman
rayungan bermata satu.
2. Sulaman ke – 1, dikerjakan pada umur 3 minggu dan berdaun 3 – 4 helai. Bibit dari rayungan bermata dua atau pembibitan.
3.  Penyulaman yang berasal dari ros/pucukan tebu dilakukan ketika tanaman berumur + 1 bulan.
4. Penyulaman ke-2 harus selesai sebelum pembubunan, bersama sama dengan pemberian air ke – 2 atau rabuk ke-2 yaitu umur 1,5 bulan
5. Penyulaman ekstra bila perlu, yaitu sebelum bumbun ke -2.


Pembumbunan Tanah
Ø Pembumbunan ke-1 dilakukan pada umur 3-4 minggu, yaitu berdaun 3 – 4 helai. Pembumbunan dilakukan dengan cara membersihkan rumput-rumputan, membalik guludan dan menghancurkan tanah (jugar) lalu tambahkan tanah ke tanaman sehingga tertimbun tanah.
Ø Pembumbunan ke – 2 dilakukan jika anakan tebu sudah lengkap dan cukup besar + 20 cm, sehingga tidak dikuatirkan rusak atau patah sewaktu ditimbun tanah atau + 2 bulan.
Ø Pembumbunan ke-3 atau bacar dilakukan pada umur 3 bulan, semua got harus diperdalam ; got mujur sedalam 70 cm dan got malang 60 cm.

Garpu Muka Gulud
Penggarpuan harus dikerjakan sampai ke pinggir got, sehingga air dapat mengalir. Biasanya dikerjakan pada bulan Oktober/November ketika tebu mengalami kekeringan.

Klentek
Yaitu melepaskan daun kering, harus dilakukan 3 kali, yaitu sebelum gulud akhir, umur 7 bulan dan 4 minggu sebelum tebang.

Tebu Roboh
Batang tebu yang roboh atau miring perlu diikat, baik silang dua maupun silang empat. Ros – ros tebu, yang terdiri dari satu deretan tanaman, disatukan dengan rumpun – rumpun dari deretan tanaman di sisinya, sehingga berbentuk menyilang.
Pemupukan
1.  Sebelum tanam diberi TSP 1 kuintal/ha
2. Siramkan pupuk SUPER NASA yang telah dicampur air secara merata di atas juringan dosis ± 1 – 2 botol/1000 m² dengan cara :
Alternatif 1 : 1 botol SUPERNASA diencerkan dalam 3 liter air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 50 lt air diberi 200 cc larutan induk tadi untuk menyiram juringan.
Alternatif 2 : setiap 1 gembor vol 10 lt diberi 1 peres sendok makan SUPERNASA untuk menyiram 5 – 10 meter juringan.
3. Saat umur 25 hari setelah tanam berikan pupuk ZA sebanyak 0,5-1 kw/ha. Pemupukan ditaburkan di samping kanan rumpun tebu
4. Umur 1,5 bulan setelah tanam berikan pupuk ZA sebanyak 0,5 – 1 kw/ha dan KCl sebanyak 1-2 kw/ha. Pemupukan ditaburkan di sebelah kiri rumpun tebu.
5. Untuk mendapatkan rendemen dan produksi tebu tinggi, semprot POC NASA dosis 4 – 6 tutup dicampur HORMONIK 1 – 2 tutup per-tangki pada umur 1 dan 3 bulan.

3.2 Hama Penyakit Tebu dan Penanganannya
            Hama penyakit tebu dan penanganannya adalah sebagai berikut:
1. Hama Penggerek Pucuk dan batang
Biasanya menyerang mulai umur 3 – 5 bulan. Kendalikan dengan musuh alami Tricogramma sp dan lalat Jatiroto, semprot PESTONA / Natural BVR.

2. Hama Tikus
Kendalikan dengan gropyokan, musuh alami yaitu : ular, anjing atau burung hantu.

3. Penyakit Fusarium Pokkahbung
Penyebab jamur Gibbrella moniliformis. Tandanya daun klorosis, pelepah daun tidak sempurna dan pertumbuhan terhambat, ruas-ruas bengkok dan sedikit gepeng serta terjadi pembusukan dari daun ke batang. Penyemprotan dengan 2 sendok makan Natural GLIO + 2 sendok makan gula pasir dalam tangki semprot 14 atau 17 liter pada daun-daun muda setiap minggu, pengembusan tepung kapur tembaga ( 1 : 4 : 5 )
4. Penyakit Dongkelan
Penyebab jamur Marasnius sacchari, yang bias mempengaruhi berat dan rendemen tebu. Gejala, tanaman tua sakit tiba-tiba, daun mengering dari luar ke
dalam. Pengendalian dengan cara penjemuran dan pengeringan tanah, harus dijaga, sebarkan Natural GLIO sejak awal.
5. Penyakit Nanas
Disebabkan jamur Ceratocytis paradoxa. Menyerang bibit yang telah dipotong. Pada tapak (potongan) pangkas, terdapat warna merah yang bercampur dengan warna hitam dan menyebarkan bau seperti nanas. Bibit tebu direndam dengan POC NASA dan Natural GLIO.
6. Penyakit Blendok
Disebabkan oleh Bakteri Xanthomonas albilincans Mula-mula muncul pada umur 1,5 – 2 bulan setelah tanam. Daun-daun klorotis akan mengering, biasanya pada pucuk daun dan umumnya daun-daun akan melipat sepanjang garis-garis tadi. Jika daun terserang hebat, seluruh daun bergaris-garis hijau dan putih. Rendam bibit dengan air panas dan POC NASA selama 50 menit kemudian dijemur sinar matahari. Gunakan Natural GLIO sejak awal sebelum tanam untuk melokalisir serangan.

3.3  Limbah Perkebunan Tebu dan Industri Gula
PEMANFAATAN FRAKSI SERAT LIMBAH TEBU DAN INDUSTRI GULA

Langsung ke dalam ransum pucuk tebu

Pucuk tebu dapat dimanfaatkan untuk pakan sapi dan kerbau. FERREIRO dan PRESTON et al. (1976) dalam menggemukkan sapi dengan batang tebu cacahan tanpa batas, menghasilkan pertambahan bobot hidup 0,7 kg/hari. Mungkin karena batang tebu
mengandung banyak energi dari gula yang dikandungnya. Angka yang sama dicapai pada pemberian pucuk tebu yang ditambah urea dan 1 kg katul/hari, tetapi konsumsi pakan meningkat, sehingga efisiensinya sedikit berkurang. Dalam hal ini banyaknya urea yang ditambahkan tidak disebutkan. Adanya pucuk tebu yang berlimpah di musim
kemarau diharapkan dapat mengurangi ketergantungan ternak akan rumput yang sangat tidak mencukupi. Hal ini memungkinkan karena mutu pucuk tebu tidak kalah dengan rumput Gajah. MUSOFIE dan WARDHANI (1985). membandingkan pakan basal rumput Gajah dan pucuk tebu yang diberikan secara ad libitum. Penambahan 1 kg konsentrat/ekor/hari meningkatkan bobot hidup serupa (0,3 vs 0,2 kg/hari) pada pedet lepas sapih, demikian juga dengan konsentrat sebanyak 1,5% dari bobot hidup pada sapi muda (0,41 vs 0,48 kg/hari), sedangkan pada sapi laktasi produksi susu serupa pula (5,76 vs 5,73 l/hari) bila konsentrat dikonsumsi sebanyak ± 5 kg bahan kering. Dengan penambahan 1 kg katul dan urea (3% dari bahan kering pakan), sapi zebu yang diberi cacahan pucuk tebu dapat mencapai pertambahan bobot hidup sebanyak 0,7 kg/hari (PRESTON dan LENG, 1987), sebagaimana yang dicapai dengan penambahan konsentrat (14% protein) sebanyak 1,5% dari bobot hidup (MUSOFIE et al., 1987a). Keistimewaan katul ini adalah kandungan lemak dan bypass protein yang cukup tinggi, dan hampir semua pati yang terkandung di dalam katul tidak dicerna dalam rumen, sebaliknya pati yang dikandung oleh ubi kayu cepat difermentasi (PRESTON dan LENG, 1987). Efisiensi akibat pemberian katul dan urea ini menunjukkan perlunya mencukupi kekurangan nitrogen (di rumen dan di usus) dan lemak (di usus) bila pucuk tebu dijadikan pakan basal.

Lumpur ampas tebu (pith)
Sapi tidak akan tumbuh normal hanya dengan pemberian lumpur ampas tebu, walaupun mengandung banyak gula (PRESTON dan LENG, 1987). Diduga pertambahan bobot hidup yang tinggi dapat dicapai pada sapi yang diberi lumpur ampas tebu dan cacahan pucuk tebu, asal ditambah konsentrat mengandung bungkil (hasil samping pembuatan minyak) dalam jumlah banyak dan senyawa nitrogen mudah dicerna seperti urea (PRESTON et al., 1976) atau yang lambat dicerna seperti daun legum (INIGUEZ-COVARRUBIAS et al., 2001), atau kombinasinya. Dengan kecernaan (in vitro) yang lebih baik daripada pucuk tebu, sedikit tetes (5% dari total pakan) sebagai pemanis, mungkin dapat menaikkan palatabilitas dan porsi lumpur ampas tebu dalam ransum hingga 50%, atau sedikit lebih rendah dari penggunaan lumpur ampas agave (63%) yang pernah dicobakan pada domba (INIGUEZ-COVARRUBIAS et al., 2001). Dari uraian di atas, serat limbah perkebunan tebu dan limbah industri gula yang masih layak sebagai pakan basal hanyalah daun dan pucuk tebu, walaupun konsumsinya oleh ternak rendah. Untuk serat limbah yang lain, disamping konsumsi, kecernaannya juga rendah, sehingga perlu diberi perlakuan atau penambahan nutrien tertentu seperti nitrogen dan mineral yang dapat menaikkan konsumsi dan kecernaannya.


BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Tebu (Saccharumofficinarum Linn) merupakan tanaman untuk bahan baku gula dimana tanaman tebu hanya dapat tumbuh di daerah beriklim tropis. Daur kehidupan tanaman tebu melalui 5 fase, yaitu : 1. Perkecambahan 2. Pertunasan 3. Pemanjangan Batang 4. Kemasakan serta 5. Kematian.
Langkah-langkah berbudidaya tebu dimulai dari pembukaan kebun kemudian turun tanah/kebruk  ; persiapan tanam dimana mencakup cara tanam dan waktu tanam selanjutnya pembudidayaan yang mencakup penyiraman, penyulaman, pembubunan tanah, garpu muka gulud, klentek , tebu roboh, serta pemupukan ; pemeliharaan mencakup perlindungan terhadap hama dan penyakit yang menyerang tanaman.
Selain itu, limbah perkebunan tebu dan industri gula dapat dimanfaatkan. Pucuk tebu serta lumpur ampas tebu dapat dimanfaatkan untuk pakan sapi dan kerbau.


4.2 Saran
            Dengan adanya makalah ini, diharapkan dapat menambah pengetahuan pembaca akan pengetahuan tentang budidaya tebu serta manfaatnya.






DAFTAR PUSTAKA
Effendi, H., 2001. Budidaya Tebu Populasi Tinggi (Hight Density Planting) untuk Meningkatkan Produktivitas. Buletin Ilmiah INS Rasjid, A. dan Atik Suryani, 1993. Kajian Jarak Juringan (PKP) Tebu Lahan Sawah Alluvial di Pasuruan. Pros.Pertemuan Teknis Tahunan I/1993. P3GI Pasuruan. pp :1-8

Soemartono, 1988. Sistem Pertanaman (Cropping System) pada Lahan Tadah Hujan dan Lahan Berpengairan Integrated Land Development Training Program Faculty of Technology, Gadjah Mada University. Yogyakarta.TIPER 8(2):52-60.

Wibowo B, Soemarno, dan Sudarto, 2003, Studi karakteristik tanah dalam evaluasi kesesuaian lahan tebu di areal perkebunan tebu Gondang Legi Kabupaten Malang, Agrivita, Publikasi Jurnal, Fakultas Pertanian, UNBRA,Vol. 23 No 2Juni 2002 – September 2002











Tidak ada komentar:

Poskan Komentar